Selasa, 16 Agustus 2011

Bendera

Hari ini 16 Agustus... H-1 detik-detik KEMERDEKAAN

Bendera merah putih tak berkibar dengan semarak...
Rumah-rumah tidak banyak yang memasang bendera,
tidak seperti yang terjadi setiap bulan agustus pada waktu aku kecil..
beberapa blok di perumahan tempat tinggalku
menyuguhkan pemandangan yang tidak berbeda..
bendera terpasang hanya satu-dua..

KEMERDEKAAN sepertinya sudah kehilangan sakralnya.
Maknanya sudah habis digerus pergulatan getir dan gaya hidup..
jiwanya tak lagi menyatu dengan jiwa-jiwa rakyat masa kini..
Peristiwa patriotik 66 tahun yang lalu, ternyata gagal mendapatkan keabadiannya di hati bangsa ini...

dia padam bersama gagalnya bangsa ini menemukan jati diri
dia luntur bersama tangis dalam sinetron
dia tenggelam dalam tepuk sorai bahak tawa opera komedi yang tak lucu
dia terlupakan dan tersingkir dari papan catur politik kita..

KEMERDEKAAN
bahkan menjadi mimpi murung bagi tukang bendera yang lelah..
mendorong gerobak dengan tumpukan bambu merah yang masih utuh..
..........
Sementara itu hari kemarin,
15 Agustus, di India sedang merayakan Independence Day..
Seperti pemandangan di Jakarta hari ini, tak ada semarak bendera dan slogan pekik kemerdekaan..
Yang terlihat hanya sejumlah orang yang mengenakan bendera kebangsaan India di dadanya.

Namun, ketika ditanya tentang makna kemerdekaan baginya, seorang wanita yang bekerja di Hotel Trident mengatakan, "Kemerdekaan itu persatuan. Itu bukan hanya di dada kami (seperti bendera kecil yang mereka tempel), akan tetapi di hati kami."

Senin, 01 Agustus 2011

Mari Menari Bersama Rumi


Pada suatu sudut hari, aku berjumpa dan bercengkerama dengan imajinasi atas sebuah penggalan sejarah yang begitu telanjang namun asing. imajinasi itu adalah seuntai tarian berputar dengan aroma magis yang meruap ruap melalui iringan musik dan pembacaan syair-syair para sufi serta lantunan doa-doa pendek. Dialah Jallaludin Rumi yang sedang berputar mengitari porosnya.

 
“Menari tidaklah menyerah pada rasa sakit,” katanya. Menari adalah ketika bangun di dua dunia, menyobek hatimu menjadi serpihan-serpihan dan membangunkan jiwamu,” kata Rumi.


Shalawat dilantunkan, gendang mulai bertabuh, seruling ney mulai ditiup Rumi terus menari dan bersenandung. Semakin lama gerakannya semakin cepat, selaras dengan ketukan yang mengiringinya.  

Mata mulai nampak semakin layu dan hampir terpejam, kepala mulai lingsir mendekati pundak.. Ia terus berputar, makin melambung dalam suasana magis yang semakin kental menuju ekstase.

Melalui ritual yang diberi nama Samâ’ ini, Rumi sedang hanyut dalam perjalanannya melepaskan segala simbol religi menuju sang Hakikat. Baginya Islam terlalu luhur untuk dimaknai dengan badani.. Ia lebih memilih keluar dari kebendaan menuju hakikat..

Melalui tarian dan sajak, Rumi ingin menggapai kebenaran sejati dari semua kultus simbol-simbol religius seperti Tauhid, Fiqh. Ia ingin mencercap langsung pemahamannya yang sejati.

” Engkau telah melakukan banyak ibadah, puasa, salat, dan zakat, tetapi tak satu pun kau rasakan lezat! Banyak sekali kulit kacang, tetapi tidak ada kacang manis di dalamnya. Mesti ada rasa, mesti ada biji kenikmatan. Tanpa itu, biji arbei tak akan melahirkan benih yang kelak menjadi pohon yang berbuah. Amal gersang tanpa rasa tidak berguna. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa ” Begitu prumpamaan Rumi.

Melalui tariannya yang magis, Rumi mengajak untuk mencari “jiwa” dan “cinta” yang tergandung dalam simbol simbol syariat, Melalui Samâ’ Rumi mengajak untuk membuka jalan jiwanya menuju Tuhan, disaat akal pikiran tak sanggup lagi menjangkau Tuhan.

Rumi mengingatkanku pada bulan hingar bingar bulan puasa ini. Betapa beruntungnya mereka yang mendapatkan anugerah bulan puasa ini. apalagi bagaikan tarian para sufi, puasa inipun mampu membuat setiap muslimin mabuk, mabuk akan Tuhan. Sebuah ekstase dalam mempertemukan jiwa kepada Sang Kekasih

Lalu lamat-lamat, tepat sebelum adzan magrib berkumandang di awal Bulan Puasa, saya masih mendengarkan dalam imaji; Gendang belum berhenti bertabuh, ney masih mengalun syahdu dan sepenggal senandung syair Rumi yang tak lengkap:


……….

Puasa ialah upacara qurban kita, yang menghidupi jiwa; mari kita qurbankan badan kita, kerana jiwa tiba sebagai tamu;
Iman yang teguh ialah awan lembut, kearifan ialah hujan yang tercurah darinya, kerana pada bulan iman inilah al-Qur’an diwahyukan.
Apabila nafsu badani dikawal, roh akan mikraj ke langit; apabila pintu penjara dirubuhkan maka jiwa akan mencapai pelukan Kekasih.
……..

Jallaludin Rumi

Demikian pula halnya dengan ibadah puasa. Sebagai ibadah, puasa pada bulan Ramadhan merupakan bentuk pengurbanan jiwa. Sememangnya cinta menuntut pengurbanan. Pengurbanan yang dimaksud ialah pengurbanan jiwa dan hati, yang hanya diperuntukkan kepada-Nya.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Selasa, 29 Maret 2011

Ada Cinta, Ada Sex?

Sepenggal paragraf 
untuk kawan yang melihat CINTA 
dari perspektif yang berbeda

Apa salahnya, seorang biarawati melakukan hubungan sex dengan seorang lelaki? Toh mereka saling mencintai...

"Jelas ini ada yg salah. Meski atas nama cinta, bukan berarti boleh berhubungan sex  tanpa menikah.
Jika menginginkan sex, menikahlah dengan komitmen yg bertanggung jawab.. sex tidak ada hubungannya dengan cinta.. manusia adalah binatang yg berfikir.. oleh karenanya, sebagai binatang manusia jg memiliki hasrat sex..dengan atau tanpa cinta.. 

Cinta adalah bahasa kiasan para pujangga untuk menggiring manusia pada komitmen dan tanggung jawab.... jangan atas nama cinta, sex bisa dilakukan dengan serampangan... 
Jangan atas nama cinta, suami orang bisa berhubungan sex dengan istri orang lainnya.. 

Pun demikian, jgn karna atas nama cinta, seorang yg tetap ingin menjadi "biarawati" boleh berhubungan sex dengan seorang lelaki..."
  
Maaf kawan, mungkin perbedaan ini cukup tajam
tetapi kuharap ini tak mengirismu terlalu dalam

Selasa, 15 Maret 2011

Kenapa Tuhan Harus Ada?


Wajar bila sebagian besar manusia  memandang "Tuhan Ada"  itu penting...

Sehingga rasa was-was dan gelisah lahir jika keyakinan akan adanya Tuhan hilang.... Bahkan kadang kebutuhan itu berubah menjadi sebuah tuntutan... tuntutan bahwa Tuhan harus ada ! 
apapun kenyataannya, Tuhan harus ada dan berperan.

Perkembangan selanjutnya adalah sebuah ironi... 
Tuhan harus ada.. 
dan harus sesuai dengan gambaran dan konsep kita/kelompok kita/lembaga kita.... 

Maka ketika sampai pada titik ini, kita semua tahu melalui sejarah... 
Tuhan akan menjadi alat kekerasan dan penindasan.... amiin.

Tapi bagiku tidak penting Tuhan itu ada atau tidak.. Yg terpenting adalah apakah gagasan, gambaran ataupun hayalan tentang Tuhan itu memiliki makna..

Rabu, 23 Februari 2011

vote for Machiavellian

Machiavellian tentu tak akan merasa bersalah dan canggung meski telah menyebut para pemuka agama itu sebagai burung gagak hitam pemakan bangkai yang tampak seperti merpati berbulu putih....." 
Bagi Machiavelli,  seorang penguasa yg efektif harus bisa menipu, berbohong, berhianat...." (the prince, 1532-machiavelli).... 
 
Hhhh...Ajaran primitif itu ternyata digemari oleh politikus kita..

Jumat, 18 Februari 2011

Indonesia Movie Only???

Film hollywood bakal hengkang
Lalu apa yg bisa kita tonton?
Indonesian movie only???
hmmm makasiiih
Goodbye Cinema 21... see you on next Government..
Go Pirates!

Rabu, 26 Januari 2011

SBY Go Best Seller

SBY Kembali membuat gebrakan... setelah debutnya di dunia musik, kini mulai menyempatkan diri untuk menulis...(herannya di beberapa sekolah dipaksakan menjadi buku wajib)
 
Buku-buku  SBY untuk anak SD yg menurut kemendiknas bukan politisasi itu adalah..
 
"Jalan Panjang Menuju Istana"
"Merangkai Kata Menguntai Nada"
"Memberdayakan Ekonomi Rakyat Kecil"
"Jendela Hati"
"Adil Tanpa Pandang Bulu"
"Peduli Kemiskinan"
"Diplomasi Damai"
"Menata Kembali Kehidupan Bangsa"
"Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan" dan 
"Berbakti untuk Bumi"

Kalau memang kemendiknas memandang bahwa buku buku itu tidak bersifat politis, maka   pesan yang paling gamblang ditangkap dari  penerbitan buku tersebut adalah sebagai sebuah narsistik yang menggelikan ...