Untuk mengenang seseorang yang aku sayangi;
Adikku, Sahabatku dan …… Kekasihku
Oleh: Gatot Suryanto
Perkenalan pertama kaliku dengan Aflarum, adalah ketika usiaku genap 17 tahun. Pada tengah malam tanggal 13 Maret, beberapa detik menjelang ulang tahunku, ia mendatangiku …… selanjutnya ……
Tit…tit…tirrriit…tiit……tiriiit…… Handphone-ku menjerit.
“Oooops, jam 00.00 Hari ini tanggal 14 Maret. Berarti saat ini aku sudah 17 tahun.”
Bisikku, sambil mematikan alarm di handphone-ku dan menata persiapan doa khusukku. Aku sama sekali tidak tahu bahwa ada sesuatu yang memperhatikanku sejak aku belum bangun tadi. Persiapan doa sudah selesai. Lilin, buku doa, salib dan rosario, siap sudah.
“Sepertinya ada yang kurang……” gumanku.
“Oh iya….. foto mas Ilalang!”
“OK, Tuhan, saya siap berdoa…”
Aku mulai khusuk dan berkonsentarsi atau sedikit bermeditasi kecil. Pikiranku aku pusatkan pada hari-hari lalu, sejak aku mulai dapat mengingat hidupku. Satu per satu peristiwa datang silih berganti seperti pemutaran film. Aku dapat merasakan kembali nostalgia lama ketika aku masih kecil dan tentu saja……bergigi gerepes. Aku ingat semuanya…ya…aku ingat…bagaimana perjalananku bukan hanya penuh bunga, tapi juga duri. Suka dan sedih, gembira dan menderita, disanjung dan dijatuhkan serta…dipuja dan dilecehkan…peristiwa masa lalu itu terus datang silih berganti membawaku ke sebuah cermin yang panjang yang dapat membeberkan segala kelemahan dan kelebihanku.
“Kelebihanku ???”
“Punyakah aku kelebihan?”
Uuuuhhh daripada pusing lebih baik kumulai saja berdoa.
“Ya Bapa, Tuhan, Allah, atau apapun yang semacamnya…pada tengah malam ini aku berterimakasih…karena Engkau telah menjagaku dan memberikan wajah serta body yang aduhai mengagumkan ini.”
Tiba-tiba aku mendengar suara ‘woooooo’ seperti sebuah ejekan dari depanku. Kubuka mataku untuk mencari-cari siapa yang mengejek doaku barusan. Kulihat ke sekeliling kamar. Semuanya lelap. Aku tambah penasaran kuputar pandanganku sekali lagi ke seluruh ruangan kamar. Tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Tidak ada?…oalah…ternyata…foto mas Ilalang di depanku berubah posisi.
Sebelumnya, ekspresinya nyengir, tapi sekarang tersenyum sambil melirik jail.
“Uuuhhhhh…” geramku. “Pantesan mas Ilalang orangnya begitu, fotonya aja jail.”
Kubalik foto itu mengahadap tembok dan kulanjutkan doaku.
“Wasss…wesssss…wosssss…aaaaaaaameeeen.” Aku menutup doaku yang super ngibul dan berbasa-basi itu. Kemudian tersenyum dan berguman.
“17 taon… Ihhh seperti mimpi”, ujarku sambil terus tersenyum.
Aku lalu bersenandung lirih sambil merebahkan tubuhku… “Every one can see… There’s a change in me…” Aku tercekat dan seperti kesetrum rasanya. Ketika diatasku ada seberkas cahaya putih terang seperti sinar matahari tetapi tidak menyilaukan. Keterkejutan dan ketakutanku tidak berlangsung lama, karena cahaya itu begitu damai dan teduh dirasakan. Aku belum pernah merasakan kedamaian dan kenyamanan seperti ini. Semakin lama, ia semakin mendekat dan …Masya Allah… Cahaya itu berubah wujud menjadi seperti wujudku… Hanya saja, ia bercahaya putih kemilau dan senyumnya….jauh lebih manis dari ku.
“Hai An… Happy birthday… Sweet seventeen kan?… Sompe’ loe?…mmmuah cup…cup, selamet ya.”
“Idiiiiih centilnya…..” pikirku.
“Kamu jangan takut…. Sebenarnya aku tidak secentil itu. Hanya berusaha menyesuaikan diri dengan kamu. Kenalan ya… Anggap saja saya guardian angel kamu. Namaku Aflarum.”
“Aflarum? ‘Nggak salah? Nama yang super aneh untuk ‘makhluk cewe‘ seperti dia.” Aku membatin.
Aflarum kemudian terlihat melayang-layang. Dia tersenyum melihatku, seakan mendengar batinku berbicara.
Ada perasaan yang semakin damai di diriku. Aku seperti terpesona melihat senyumnya dan menghayal seandainya aku dapat seperti dia.
“Aflarum… Sorry ya…dari mana sih kamu datang ke sini, trus ada perlu apa…” Ujarku memberanikan diri untuk bertanya.
“An…” jawabnya sambil tersenyum, “Aku datang dari dalam hatimu sendiri. Di setiap hati manusia, selalu ada Aflarum - Aflarum seperti aku. Datang hanya sesekali atau beberapa kali dalam satu periode hidup untuk menjawab seluruh pertanyaan dan kebimbangan tentang hidup. Akan hadir jika diinginkan.”
“Kebimbangan tentang hidup? Memangnya aku punya? Perasaan, aku asik-asik aja deh,” pikirku.
“Malam ini aku datang, karena kamu berulang tahun yang ke-17, dan hati kamu penuh dengan pertanyaan. Jadi jangan ragu-ragu, tanyalah tentang apa yang ingin kamu tanyakan.”
Kemudian ia menggandeng tanganku, dan tiba-tiba saja, tubuhku seperti seringan kapas. Melayang bersejajar dengan Aflarum yang membisikkan sesuatu.
“Mari kita pergi dari sini.”
Aku hanya mengangguk karena sensasi yang kurasakan menjadi sangat luar biasa. Tiba-tiba saja tubuhku seperti tersedot ke dalam sebuah lorong sempit yang panjang. Gelap dan pekat. Aku meluncur seperti naik ‘halilintar’ di Dunia Fantasi. Hingga akhirnya aku sampai si suatu senja di sebuah tempat yang indah.
Tempat itu seperti sebuah jalan panjang di dataran tinggi. Lebar jalanan itu hanya sekitar setengah meter. Depan dan belakangku adalah lembah hijau keemasan tertimpa matahari senja. Angin berhembus sejuk, membuat rambutku berkibar-kibar bagai bendera partai politik yang sedang berkampanye. Kemudian aku duduk dengan Aflarum di sebuah batu lempeng yang cukup luas di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga. Di sekitar batu itu, rumput-rumput krisan tumbuh dengan mungil. Bunganya bertebaran di atas tangkai yang lembut.
“Disini, senja ini abadi. Jadi jangan takut akan datangnya malam.” Aflarum membuka pembicaraan, “Oleh karenanya, aku menamakan tempat ini dengan ‘Lembah Senja Abadi‘.”
Aku diam saja, mencoba untuk mengerti dan mempercayai. Apa yang tak pernah terfikir dan terbayang olehku, saat ini ku alami. Aku merasakan hal-hal aneh, di tempat yang aneh dan dengan “makhluk” yang aneh.
Tetapi jujur saja, aku begitu menyukai ini semua. Suasana ini, selalu menjadi khayalanku sepanjang waktu.
Pikiranku terus berkecamuk. Perlahan-lahan kucabut bunga ilalang yang melambai-lambai di kakiku. Tangkai mudanya kugigit-gigit dan kuhisap-hisap rasa manisnya.
“Aflarum,” ujarku sontak. “Apakah aku bisa ketempat seperti ini selalu?”
Aflarum menatapku dan berbisik perlahan. Nyaris tak terdengar karena terbawa hembusan angin.
“Selama ada permasalahan kehidupan yang menjadi permenunganmu, aku akan membawa kamu ke tempat ini.”
“Oleh karenanya, An. Pada kesempatan ini, gunakanlah untuk bertanya. Jangan hanya kau pendam. Aku adalah juga dirimu yang paling dalam.”
Ia lalu menunjuk pada burung Kepodang yang sedang merentangkan sayapnya melayang seperti menari dengan angin di lembah di depan sana. Aflarum berkata bahwa sebenarnya burung itu sedang bercengkrama dan berdiskusi tentang banyak hal dengan alam.
Aku kemudian berfikir, bahwa tidak ada salahnya untuk bercengkrama dan bertanya sesuatu pada Aflarum.
“Aflarum, aku ingin bertanya…” Aku melihat Aflarum menoleh padaku.
“Apakah sebenarnya Cinta…dan bagaimanakah sebenarnya dia?”
Aflarum diam sejenak. Lalu ia menunjuk pada burung Kepodang yang sedang melayang di depanku itu.
“An, kamu lihat burung itu?”
Aku mengangguk dan menatap burung itu.
“Cinta itu seperti burung itu.” Terangnya berfilosofi.
“Kalau kau mengira bahwa cinta itu dapat kau kuasai, itu salah. Dia adalah sesuatu yang hakiki, menjadi milik dirinya sendiri, merdeka, tetapi ia sangat indah.”
“Kau hanya bisa merasakan dan menikmati saja seperti kau menikmati indahnya burung itu terbang. Tetapi kau tak akan pernah bisa menguasainya.”
Aku mengernyit dahi dan menanmpangkan tampang tolol mendengar penjelasannya.
“An, sama dengan burung itu, demikian cinta, bila kau paksa menyangkarkannya, maka justru tak akan pernah dapat mengerti keindahannya.
“Jadi Aflarum, makasudmu aku tidak akan pernah bisa bersanding dengan orang yang aku cintai?”
“An, bersanding dengan orangnya bisa, tetapi tidak dengan cintanya. Cinta itu akan tetap melayang-layang bebas tanpa dapat kau sangkarkan. Tidak seperti lelaki yang dapat kau ikat dalam sebuah perkawinan.”
“Perumpamaan Cinta adalah seperti ini. Suatu hari kamu berjalan-jalan ke tempat yang sangat indah dengan seorang cowok. Lalu kalian berdua melihat burung-burung Kepodang seperti di depan sana melayang dengan anggunnya. Lalu kalian begitu menikmati indahnya suasana alam dan burung Kepodang itu, hingga tak terasa, kalian menjadi saling dekat satu dengan yang lainnya. Nah, An, Alam yang indah dan burung Kepodang itulah Cinta.”
“Maksudmu, seandainya aku punya suami, bukan karena mencintaiku lalu ia menikah dan hidup denganku?”
“Kamu jangan panik begitu dong. Tadi aku sudah beritahu seperti apa cinta, jadi kamu harus jawab sendiri pertanyaan kamu itu. Rasanya aku hanya bisa memberi tahu itu saja. Selanjutnya, kamu harus menemukan sendiri maknanya.”
Aku terdiam. Dalam hati dongkol juga, kenapa setelah aku bertanya justru aku semakin bingung. Konsep cinta yang selama ini aku ketahui, menjadi absurd setelah mendengar ocehan Aflarum …tapi…benarkah apa yang dikatakan Aflarum?
“An… Sepertinya waktuku untuk mengunjungimu sudah tidak banyak lagi. Kita harus berpisah.” Ujarnya sambil berdiri.
Uuhh. Aku gelisah karena pertanyaanku belum terjawab dengan tuntas dan aku masih punya banyak pertanyaan lagi.
“Dalam hidupmu, aku bisa beberapa kali mengunjungimu, jadi jangan khawatir.”
“Aflarum … Sayang sekali.” Ujarku menyesali pertemuan yang sangat singkat ini. Aflarum tersenyum, dia lalu memetik setangkai bunga Krisan berwarna biru. Lalu menyelipkannya ke rambutku.
“An…di usiamu yang ke 17 tahun ini, kamu manis juga.” Ujarnya menghiburku.”Selamat ulang tahun sekali lagi, dan semoga kau menjadi An yang dewasa dan menyenangkan…. Sekarang pejamkanlah matamu.”
Aflarum kemudian memegang kedua tanganku seraya tersenyum. Ia mengajakku menatap ke langit jingga sekali lagi. Burung Kepodang itu sudah pergi entah kemana. Mungkin saja angin membawanya ke suatu tempat, dimana seseorang sedang mencari cintanya. Aku kemudian ikut tersenyum sebelum memejamkan mataku dan….. Oooops… Aku sudah berada di tempat tidurku lagi.
Ku amati disekelilingku…. Semua masih sama seperti saat ku ‘tinggalkan’ tadi. Semua orang di kamar ini masih terlelap, senyap dan larut dengan dunia mimpinya masing-masing.
Aku begitu senang dapat berkenalan dengan Aflarum. Meski saat ini ia hadir hanya sebentar, tetapi aku yakin di dalam perjalanan hidupku selanjutnya, ia akan datang dengan sebuah sapan, “Haiiii An,….aku Aflarum.”
“Hhhhhh…. Aflarum …. Aflarum ….. Aflarum ….” bisikku sambil menahan beratnya kelopak mataku. Sepertinya aku akan segera tertidur jika saja Hp-ku tidak berderak seperti suara kodok.
“Ada sms.” batinku, sambil ku buka pesan itu.
Ternyata sebuah pesan singkat datang dari balik gelap malam di ujung sana; Happy Birthday An…
Sebelum kututup dan kutinggalkan malam ini, aku membalas sms itu, “terima kasih ya mas Ilalang.”
Senin, 04 Oktober 2004
Aflarum
***
Diposting oleh Gatot Suryanto di 19.22
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar