Mungkin Tuhan memang menciptakan 2004 untuk sebuah bencana. Paling tidak bagi tanah air kita.
Seorang kawan bersedu sedan
Bagaimana tidak,
teroris dilahirkan dari sini!
puluhan manusia mati sia-sia, ketika JW Marriot diledakkan...
cerita yang sama, seperti sebuah dongeng pembantaian juga terjadi di kedubes Australia..
...........
aku heran, negeri ini masih membusungkan dada & mencari simpati sebagai korban fundamentalis berjubah teroris..
padahal itu perbuatan anak kandung sendiri
Lalu datanglah azab,
selaksa air bah dalam sejarah Taurat
gelombang tsunami luluhlantakkan negeri serambi Makkah
tanpa mimpi,
tanpa bahtera..
hanya di negeri ini,
sebuah kota tak berdosa
dihancurkan seperti Sodom dan Gomorah
-Sembilan puluh ribu mayat merentang kaku
tergeletak di jalan-jalan, atap-atap rumah, selokan-selokan,
tersangkut di pohon-pohon-
begitu kata berita
Ribuan rumah rata dengan tanah
kota bau anyir
tiap jengkal adalah bangkai
ternak mati
lumbung hanyut
maka seluruh jiwa yang tersisa adalah kaum dhua'fa
Tetapi diri ini smakin gelisah
ketika negri ini makin mengangkat dagu dan memamerkan bencana..
lalu dengan nyanyian pilu, tercipta berisan relawan kemanusiaan yang berpawai membawa kepentingan dibalik bingkisan
Kawanku terus mengeluh
Mengapa negeri ini tak tahu beda
mana cobaan atau hukuman
Lalu.... kudengar sayup sayup..
sebait tunggal puisi seorang warga yang selamat di Aceh
"Kota angkuh ini telah rata dengan tanah....
Dermaga yang ramai kini tak lagi disinggahi kapal kapal.."
.............
Akhir tahun, penutup tahun
seorang kawan merasa dihukum Tuhan..
karna dilahirbesarkan di negeri congkak ini...
Jumat, 31 Desember 2004
2004, Sebuah Kaleidoskop Bencana
Diposting oleh Gatot Suryanto di 22.45
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar