O SEPI
Sering kali kau renggut sukmaku dari kusyukku,
tempatku selami samadi untuk menabur benih benih sepi...
kau ingin aku di kamarku yang lusuh
- yang jika sempat aku membuatnya, ada secangkir kopi di atas meja-
seperti hari ini
kau renggut aku dari keterasingan merawat sepi
hanya untuk menyaksikan kepulan asap rokok
singgah di sawang sawang...
kau lalu pergi
setelah hilang petualanganku menaklukan mimpi,
memetik sepi dan menuainya dengan penaku..
maka potret-potret tua di dinding retak kembali memaki
karna sukmaku kembali,
dengan jemari yang tetap membeku......
_____________________
well.. sebuah peringatan; Do not critisize vehemently !
itu puisi yang aku tulis di pertengahan musim hujan 1998..
Kadang aku merasa memiliki hubungan kusus dengan sepi, dia ibarat musuh yang selalu aku rindukan.. Tapi kadang antara sepi dan imajinasiku seperti saudara dekat yang tak saling bertegur sapa. Banyak orang dengan mudah menemukan kesepian itu sendiri... tapi bagiku, masuk ke dalam keadaan sepi rasanya begitu sulit..
Sindhunata, Jesuit dari Jogja yang bertalenta sastra itu pernah mengutip permenungan Marguerite Duras tentang menulis dan kesepian (Juli 2003).. begini cerita Duras;
" Berani menyendiri, berada dalam kesendirian dan keterasingan adalah yang harus terjadi dalam kepenulisan.. Kesepian itu bahkan harus dialami bukan hanya secara rohani, tetapi juga secara badani. Namun kesepian itu bukan berarti isolasi. Kesepian itu lebih merupakan semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak sekaligus menolak kontak.
Dalam kesepian itu orang bahkan menjadi liar. Menulis memang membuat orang menjadi liar. Menulis membuat orang kembali kepada kebuasan, yang ada sebelum hidupnya.. Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah.
Jelas, orang yang tidak berani sepi, dia tidak akan menjadi penulis yang baik. Tapi, kesepian itu bukan romantisme kesendirian. Kesepian itu adalah suasana,yang menantang kita untuk berani bergulat dengan keseluruhan realita, yang ternyata tidak mudah ditaklukan. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga. Suatu kebertapaan di tengah keramaian....."
Wah wah Duras dan Sindhu sama saja... lha wong cuma membahas "kesepian" seorang penulis aja kok begitu ruwetnya....
Tetapi aku rasa, inilah bahasa yang paling sederhana dan gamblang yg bisa dituliskan tentang dunia seorang penulis.....
hmmmffff sudah 22:35.. dan secangkir kopi tinggal tersisa ampas-ampas kafein saja.. tunggu aku wahai bantalku
Selamat malam bidadari... guten abend, gut Nacht
Jumat, 17 Desember 2004
Menulis dan "Kesepian"
Diposting oleh Gatot Suryanto di 22.41
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar