Sejak Mei hingga Juli 2005, koran-koran nasional di Jakarta mengangkat berbagai berita yang begitu ironis..
Membaca berita belakangan ini, seperti berhadapan dengan banyak kejutan...
-ini rasanya satu-satunya keuntungan yg bisa didapat dari reformasi '98... pers lebih mudah mendapatkan akses informasi dan memberitakannya secara telanjang-
Mengejutkan, karna ternyata di tahun 2005 ini ternyata banyak anak-anak yang terserang polio..Virus yang sebenarnya sudah hilang sejak tahun'80an karena aktifnya Posyandu kala itu, ternyata kini mulai merebak lagi bahkan hingga ke Jakarta..
dan pemimpin bangsa ini segera bersolek..menyatakan membuka hp pribadi untuk menerima pengaduan dari rakyat Indonesia terkait kasus primitif ini.
Mengejutkan, karena pada 2005 ini sebagian besar pelajar Indonesia tidak lulus ujian nasional (UN). Dari beberapa yang terekspose justru ketidaklulusan di dominasi kota-kota besar.
Bagaimana dengan Jogja yang terkenal dengan julukan "kota pelajar"??
Setidaknya ditemukan 4 sekolah dimana seluruh para peserta UN tidak ada yang berhasil lulus...
Semarang lain lagi. Tercatat sekitar 13 sekolah mengalami tingkat kelulusan 0%..
Bagaimana dengan Jakarta? paranoia UN menciptakan lahan bisnis baru bagi guru... jual beli dengan komoditas bocoran soal atau kunci jawaban!...
Hanya dengan 50ribu rupiah, siswa siswi bisa memperoleh kunci jawaban untuk mata pelajaran yang mematikan...
caranya?
begitu bersahaja.. ketika waktu ujian hampir usai, seorang guru membacakan jawaban A,B,C atau D di depan kelas secara berurutan menurut nomor soal....
Mengejutkan, karena di tahun 2005 ini, ternyata anak-anak Indonesia banyak yang mengalami gizi buruk hingga busung lapar.. Ironisnya, wabah busung lapar merebak pertama kali dari sebuah daerah yang pernah dikenal sebagai "lumbung padi" - Nusa Tenggara -
Lalu mekokesrapun (Alwi Shihab) bersolek di media masa.. merubah kejadian itu menjadi sebuah "kecelakaan".. Entah darimana munculnya kesimpulan yang mampir di kepala pak menteri... Tetapi darimanapun itu, menurutku tetap berasal dari alam berfikir yang menggelikan.
Mengejutkan karena para anggota DPR kita merencanakan kenaikan tunjangan operasional mereka antara 72% - 85%... angka itu akan menjelaskan bahwa tiap bulan para wakil rakyat itu akan mendapat tambahan tunjangan sebesar 30juta untuk ketua DPR, 22 juta untuk wakil-wakilnya dan 15 juta untuk anggota.. Padahal gaji beserta tunjangan untuk anak istri mereka yang tercatat hingga hari ini adalah sebesar 35 juta untuk ketua, 30 juta untuk wakil, dan 24 juta untuk anggota..
Jadi jika rencana ini direalisasikan masing masing secara berurutan akan berpenghasilan 65 juta, 55 juta dan 39 juta.... belum termasuk beragam fasilitas....
![]() | |


0 komentar:
Posting Komentar