Rabu, 01 November 2006

Ave Maria

Ave Ave ...

Matahari 2006 semakin condong menuju senja... dan seperti senjawarsa tahun-tahun yang lalu, aku selalu lebih memilih menikmatinya dengan menapaki rute peziarahan.
Perasaan itu selalu ada, bahwa tiap senja selalu memiliki saat-saat intimnya sendiri.
Aku dan Tuhanku..

Begitulah saat ini, diantara tumpukkan batu-batu padas dan hamparan batu kapur yang telah ada sebelum Adipati Wiranagara terlahir untuk menggapai takdirnya sebagai legenda dalam babad Alas Nangka Dhoyong, Gunung Kidul, aku menyelipkan secuil doa di Goa Maria Rosario dan Goa Maria Sendang Ratu Kenya.

Lalu, doaku seperti menemukan teman sepeziarahan, ketika  air di lembah sungai Kulon Progo yang senantiasa mengalir sebagai sebuah siklus reenkarnasi, dan membelah bukit dari Menoreh hingga ke Tidar itu membasahi wajah..
Disini, di Sendang Jatiningsih dan Sendang Sono, diiringi bisikan angin dari lereng Suralaya, aku menaburkan untaian tawassul. Lalu ada credo dan Mazmur  yang menggema dari hati menembus ekstase-ekstase klise...

dan sebelum hatiku benar benar remuk, kututup doaku di rerimbunan hutan jati tua yang meranggas di bukit kecil Kaliori, Banyumas.
Diantara nyaring kicau burung dan hembusan angin dari arah perkuburan, aku dengar lantunan sebait kidung ....


Ya NamaMu Maria...Bunda yang kucinta... ...
Patutlah Nama Itu, Hidup di batinku,
dan nanti kuucapkan ...di saat ajalku


Ave Maria, Gratia plena...
Dominus tecum. Benedicta tu in mulieribus...
..........................................................

Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.... amin

0 komentar: