Simprug poris blok E3 nor 12A pagi-pagi sekali
Siulan burung liar diluar sana terdengar pendek dan samar......
Semenjak mula kemarau panjang 2006 ini bertandang, daun-daun mulai layu. Ilalang mengering dan burung-burung itu kehilangan pijakannya.
Tempat bermain bagi burung liar yang tersisa kini, adalah beberapa pohon besar yang cukup rindang, tetapi letaknya agak jauh dari rumah ini sehingga kalau dulu burung burung itu kerap mampir hingga ke teras, kini aku hanya bisa mendengar siulannya yang sayup.
Rumah ini, tiga tahun lalu aku tempati dengan penuh rasa.
Bertempat di rumah ini, berarti mengakhiri masa keterceraiberaian kala itu.
Rumah berukuran 43m2 dengan luas tanah 83m2 sejak Oktober 2003 ini, terlihat sempit. Namun inilah kawah chandradimuka.. Tempatku "dipaksa" merubah kalimat klise menjadi realitas.. Pembelajaran datang silih berganti dengan satu tempaan dan tempaan lainnya..
Kini, pertengahan November 2006.
13 hari menjelang ulang tahun perkawinanku yang pertama, aku tengah bersiap, untuk segera pindah dari rumah suka duka ini,
rumah yang telah menghiasi malam-malamku dengan sweet dream maupun nightmare....
dengan indahnya kerlip bintang maupun panasnya hujan bola api...
Sebelum beranjak, aku sempat melukis harapan, di rumah yang baru orang-orang yang kucintai lebih merasa nyaman.
Tiap malam hanya melewati sweet dream tanpa kehadiran bola api yang menakutkan...
Dan... siulan burung burung liar dapat lebih dekat kudengar.. tidak sayup samar lagi.
Serta, Ssssttt... kalau aku tidak salah berfirasat... "matahari" baru akan terbit disana
Selasa, 14 November 2006
Seperti Burung Kemarau yang Mencari Pijakan
Diposting oleh Gatot Suryanto di 06.00
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar